Laa Tahzan! | Jangan Bersedih! | JASMANI-MAUPUN
PERANGAINYA MIRIP RASULULLAH
Perhatikan
kemudaannya yang gagah tampan serta berwibawa . . . . Perhatikan warna kulitnya
yang cerah bercahaya Perhatikan kelemah lembutannya, sopan santun, kasih
sayangnyaj kebaikannya, kerendahan hati serta
ketaqwaannya
.
. . .
Perhatikan
keberaniannya yang tak kenal takut, kepemurahannya yang tak kenal batas.
Perhatikan kebersihan hidup dan kesucian jiwanya. Perhatikan kejujuran
dan amanahnya ….
Lihatlah,
pada dirinya bertemu segala pokok kebaikan, keutamaan dan kebesaran.
Anda
jangan heran tercengang, karena anda sekarang berada di hadapan seorang manusia
yang mirip dengan Rasulullah dalam ujud tubuh dan tingkah laku atau budi
pekertinya. Anda berada di muka seseorang yang telah diberi gelar oleh Rasul
sendiri sebagai “Bapak si miskin”. Anda berhadapan dengan seseorang yang diberi
gelar “Si Bersayap dua di surga”. Anda di muka “Si Burung surga” yang selalu
berkicau. Siapakah itu …? Itulah Ja’far bin Abi Thalib! Salah seorang pelopor
ternama Islam. Perintis utama yang terkemuka, di antara orang-orang yang telah
melibatkan seluruh kehidupannya dan memiliki
saham besar dalam menempa hati nurani kehidupan ….
Ia
datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memasuki Agama Islam,
dengan mengambil kedudukan tinggi di antara mereka yang sama-sama pertama kali
beriman. Ikut pula isterinya Amma binti ‘Umais menganut Islam pada hari yang
sama. Keduanya selaku suami isteri ikut menanggung derita, dengan seluruh
keberanian dan ketabahan tanpa memikirkan kapan waktu penderitaan itu berakhir.
Sewaktu Rasulullah memilih shahabat-shahabatnya yang akan hijrah ke Habsyi
(Ethiopia), maka tanpa berfikir panjang Ja’far bersama isterinya tampil
mengemukakan diri, hingga tinggal di sana selama beberapa tahun. Di sana mereka
dikaruniai Allah tiga orang anak yaitu: Muhammad, Abdullah dan ‘Auf.
Selama
di Ethiopia, maka Ja’far bin Abi Thaliblah yang tampil menjadi juru bicara yang
lancar dan sopan, serta cocok menyandang nama Islam dan utusannya. Demikian
adalah hikmat Allah yang tidak ternilai yang telah dikaruniakan kepadanya,
berupa hati yang tenang, akal fikiran yang cerdas, jiwa yang mampu membaca
situasi dan kondisi serta lidah yang fasih.
Dan
sekalipun saat-saat pertempuran Muktah yang dihadapinya kemudian sampai ia
gugur sebagai salah seorang syuhada, merupakan saatnya yang terdahsyat,
teragung dan terabadi, tetapi hari-hari berdialog yang dilakukannya dengan
Negus, tak kurang dahsyat dan seramnya, bahkan tak kurang hebat nilai
martabatnya . . .. Sungguh hari itu adalah hari istimewa dan penampilan yang
mempesona ….
Peristiwa
tersebut terjadi, karena Kaum Muslimin hijrahnya ke Ethiopia, membuat kaum
Quraisy tak pernah senang dan diam, bahkan menambah membangkitkan
kemarahan dan rasa dengki mereka, bahkan mereka sangat takut dan cemas
kalaukalau Kaum Muslimin di tempatnya yang baru ini, menjadi bertambah kuat dan
jumlahnya semakin banyak.
Bahkan
bila kesempatan berkembang dan bertambah kuat ini tidak sampai terjadi, mereka
tetap tidak merasa puas, disebabkan orang-orang Islam itu lepas dari tangan dan
terhindar dari penindasan mereka, dan tentulah mereka akan menetap di sana
dengan harapan dan masa depan yang gemilang, yang akan melegakan jiwa Muhammad
shallallahu 'alaihi wa sallam dan lapangnya dada Islam.
Karena
itulah para pemimpin Quraisy mengirimkan dua orang utusan terpilih pada kaisar
(Negus), lengkap dengan membawa hadiah-hadiah yang sangat berharga dari kaum
Quraisy, kedua utusan ini menyampaikan harapan Quraisy agar Negus mengusir Kaum
Muslimin yang hijrah dan datang melindungkan diri itu keluar dari negerinya dan
menyerahkannya kepada mereka. Dua utusan yang datang itu ialah Abdullah bin Abi
Rabi’ah dan Amar bin ‘Ash, yang keduanya di waktu itu belum lagi masuk Islam.
Negus
yang waktu itu bertakhta di singgasana Ethiopia, adalah seorang tokoh yang
mempunyai iman yang kuat. Dalam lubuk hatinya, ia menganut agama Nasrani
secara murni dan padu, jauh dari penyelewengan dan lepas dari fanatik buta dan
menutup diri. Nama baiknya telah tersebar ke mana-mana, dan perjalanan hidupnya
yang adil telah melampaui batas negerinya. Oleh karena inilah Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam memilih negerinya menjadi tempat hijrah bagi
shahabat-shahabatnya, dan karena ini pulalah kaum kafir Quraisy merasa khawatir
kalau-kalau maksud dan tipu muslihat mereka jadi gagal dan tidak berhasil. Dari
itu kedua utusannya dibekali sejumlah
hadiah besar yang berharga untuk pembesar-pembesar agama dan pejabat gereja di
sana.
Pemimpin-pemimpin
Quraisy menasihati kedua utusannya agar mereka jangan menghadap kaisar dulu
sebelum memberikan hadiah-hadiah kepada Patrik dan Uskup, dengan tujuan agar
Para pendeta itu merasa puas dan berpihak kepada mereka, dan agar orang-orang
itu menyokong tuntutan mereka di hadapan kaisar kelak. Kedua utusan itu pun
sampailah ketempat tujuan mereka, Ethiopia. Mereka menghadap pemimpin-pemimpin
agama dengan membawa hadiah-hadiah besar yang dibagi-bagikannya kepada mereka.
Kemudian mereka kirim pula hadiah-hadiah kepada Negus.
Demikianlah
keduanya terus-menerus membangkitkan dendam kebencian di antara para pendeta.
Keduanya berharap dengan sokongan moril para pendeta itu, Negus akan mengusir
Kaum Muslimin keluar dari negerinya.
Demikianlah,
hari-hari di saat keduanya akan menghadap kaisar sudah ditetapkan. Dan Kaum
Muhajirin pun diundang untuk menghadapi dendam kesumat
Quraisy yang masih hendak melakukan muslihat keji dan menimpakan siksaan kepada
mereka ….
Dengan
air muka yang jernih berwibawa, dan kerendahan hati yang penuh pesona, baginda
Negus pun duduklah di atas kursi kebesarannya yang tinggi, dikelilingi
oleh para pembesar gereja dan agama serta lingkungan terdekat istana. Di
hadapannya di atas suatu ruangan luas duduk pula Kaum Muhajirin Islam, yang
diliputi oleh ketenteraman dari Allah dan dilindungi oleh rahmat-Nya.
Kedua
utusan kaum Quraisy berdiri mengulangi tuduhan mereka yang pernah mereka
lontarkan terhadap Kaum Muslimin di hadapan kaisar pada suatu pertemuan khusus
yang disediakan oleh kaisar sebelum pertemuan besar yang menegangkan ini:
“Baginda
Raja yang mulia. Telah menyasar ke negeri paduka orang-orang bodoh dan tolol.
Mereka tinggalkan agama nenek moyang mereka, tapi tidak pula hendak memasuki
agama paduka. Bahkan mereka datang membawa Agama baru yang mereka ada-adakan,
yang tak pernah kami kenal, dan tidak pula oleh paduka. Sungguh, kami telah
diutus oleh orang-orang mulia dan
terpandang
di antara bangsa dan bapak-bapak mereka, paman-paman mereka, keluarga-keluarga
mereka, agar paduka sudi mengembalikan orang-orang ini kepada kaumnya kembali”.
Negus
memalingkan mukanya ke arah Kaum Muslimin sambil melontarkan pertanyaan:
“Agama
apakah itu yang menyebabkan kalian meninggalkan bangsa kalian, tapi tak
memandang perlu pula kepada agama kami?”
Ja’far
pun bangkit berdiri, untuk menunaikan tugas yang telah dibebankan oleh
kawan-kawannya sesama Muhajirin yakni tugas yang telah mereka tetapkan dalam
suatu rapat yang diadakan sebelum pertemuan ini. Dilepaskannya pandangan ramah
penuh kecintaan kepada baginda Raja yang telah berbuat baik menerima mereka,
lalu berkata:
“Wahai
paduka yang mulia! Dahulu kami memang orang-orang yang jahil dan bodoh kami
menyembah berhala, memakan bangkai, melakukan pekerjaan-pekerjaan keji,
memutuskan silaturrahmi, menyakiti tetangga dan orang yang berkelana. Yang kuat
waktu itu memakan yang lemah. Hingga datanglah masanya Allah mengirimkan
Rasul-Nya kepada kami dari kalangan kami. Kami kenal asal-usulnya, kejujuran,
ketulusan dan kemuliaan jiwanya. la mengajak kami untuk mengesakan Allah dan
mengabdikan diri pada-Nya, dan agar
membuang
jauh-jauh apa yang pernah kami sembah bersama bapak-bapak kami dulu berupa
batu-batu dan berhala . . . . Beliau menyuruh kami bicara benar, menunaikan
amanah, menghubungkan silaturrahmi, berbuat baik kepada tetangga dan menahan
diri dari menumpahkan darah serta semua yang dilarang Allah …..
Dilarangnya
kami berbuat keji dan zina, mengeluarkan ucapan bohong, memakan harta anak
yatim, dan menuduh berbuat jahat terhadap wanita yang baik-baik .
.
. . Lalu kami membenarkan dia dan kami beriman kepadanya, dan kami ikuti dengan
taat apa yang disampaikannya dari Rabbnya. Lalu kami beribadah kepada Rabb Yang
Maha Esa dan tidak kami persekutukan sedikit pun juga, dan kami haramkan apa
yang diharamkan-Nya kepada kami, dan kami halalkan apa yang dihalalkan-Nya
untuk kami.
Karenanya
kaum kami sama memusuhi kami, dan menggoda kami dari Agama kami, agar kami
kembali menyembah berhala lagi, dan kepada perbuatan-perbuatan jahat yang
pernah kami lakukan dulu. Maka sewaktu
mereka memaksa dan menganiaya kami, dan menggencet hidup kami, dan menghalangi
kami dari Agama kami, kami keluar hijrah ke negeri paduka, dengan harapan akan
mendapatkan perlindungan paduka dan terhindar dari perbuatan-perbuatan aniaya mereka.
. . .”.
Ja’far
mengucapkan kata-kata yang mempesona ini laksana cahaya fajar. Kata-kata itu
membangkitkan perasaan dan ke haruan pada jiwa Negus, lalu sambil menoleh pada
Ja’far baginda bertanya:
“Apakah
anda ada membawa sesuatu (wahyu) yang diturunkan atas Rasulmu itu?”
Jawab
Ja’far: “Ada”.
Tukas
Negus lagi: “Cobalah bacakan kepadaku”.
Lalu
Ja’far langsung membacakan bagian dari surat Maryam dengan irama indah dan
kekhusyu’an yang m‘emikat. Mendengar itu, Negus lalu menangis dan para pendeta
serta pembesar-pembesar agama lainnya sama menangis pula. Sewaktu air mata
lebat dari baginda sudah berhenti, ia pun berpaling kepada kedua utusan Quraisy
itu, seraya berkata:
“Sesungguhnya
apa yang dibaca tadi dan yang dibawa oleh Isa 'alaihis salam sama memancar dari
satu pelita. Kamu keduanya dipersilahkan pergi! Demi Allah kami tak akan
menyerahkan mereka kepada kamu!”
Bersambung ke JA’FAR BIN ABI THALIB Bagian II
0 komentar:
Posting Komentar