Tentu saja tak bijak menilai sesuatu
secara terburu-buru sebelum pernah membayangkan, merasakan dan menciumnya
sendiri. Dan adalah sebuah kejahatan terhadap ilmu ; memfatwakan sesuatu secara
terburu-buru sebelum terlebih dahulu mengkaji akar permasalahannya, mendengar
pernyataanpernyataan tentangnya, mencari argumen-argumen yang mendasarinya, dan
membaca dalil-dalil yang berkaitan dengannya.
Saya menulis buku ini untuk siapa saja
yang senantiasa merasa hidup dalam bayang-bayang kegelisahan, kesedihan dan kecemasan,
atau orang yang selalu sulit tidur dikarenakan beban duka dan kegundahan yang
semakin berat menerpa. Dan tentu saja, siapa di antara kita yang tidak pernah
mengalami semua itu?
Dalam buku ini saya sengaja menukil
ayat-ayat Allah, bait-bait syair, pengalaman dan 'ibrah, catatan
peristiwa dan hikmah, serta pelbagai perumpamaan dan kisah-kisah. Dari semua
itu, saya sengaja mengambil kesimpulan dari orang-orang shaleh sebagai penawar
hati yang lara, penghibur jiwa tercabik, dan pelipur diri yang sedang dirundung
duka cita.
Buku ini akan mengatakan kepada Anda,
"Bergembiralah dan berbahagialah!" atau "Optimislah dan
tenanglah!" Bahkan, mungkin pula ia akan berkata, "Jalani hidup ini
apa adanya dengan penuh ketulusan dan keriangan!"
Buku ini berusaha meluruskan berbagai
kesalahan yang terjadi akibat penyimpangan terhadap fitrah saat berinteraksi
dengan sunnah-sunnah Allah, sesama manusia, benda, waktu dan tempat.
Buku ini mencegah Anda agar tidak
terus-menerus melawan arus kehidupan, menentang takdir, mendebatmanhaj yang
telah digariskan dan mengingkari bukti-bukti. Lebih dari itu, buku ini mengajak
Anda dari yang suatu tempat yang sangat dekat sudut sudut jiwa dan ruh Anda
agar senantiasa tenang menatap perjalanan masa depan.
Buku ini mengajak Anda agar merasa yakin
dengan semua potensi dalam diri diri Anda dan menyimpan semua energi positif
yang ada. Buku ini menggiring Anda untuk melupakan tekanan hidup, sesaknya
perjalanan usia dan beban perjalanan hidup.
Ada beberapa hal penting dari buku ini
yang perlu saya ingatkan sebelum kita melangkah lebih jauh. Diantaranya adalah:
Pertama, buku ini ditulis untuk mendatangkan kebahagiaan, ketenangan, kedamaian,
kelapangan hati, membuka pintu optimisme dan menyingkirkan segala kesulitan
demi meraih masa depan yang lebih indah. Buku ini merupakan pengetuk hati agar
selalu ingat akan rahmat dan ampunan Allah, bertawakal dan berbaik sangka
kepada-Nya, mengimani qadha' dan qadar-Nya, menjalani hidup sesuai apa adanya,
melepaskan kegundahan tentang masa depan, dan mengingat nikmat Allah.
Kedua, buku ini mencoba memberikan resep-resep bagaimana mengusir rasa duka,
cemas, sedih, tertekan, dan putus asa.
Ketiga, saya berusaha menyertakan dalil-dalil dari al-Qur'an dan hadits yang sesuai
dengan tema setiap bahasan. Selain itu, tak jarang saya nukilkan pula pelbagai
permisalan yang bagus, kisah yang penuh 'ibrah dan mengandung
pelajaran berharga, serta bait-bait syair yang memiliki kekuatan. Dalam banyak
tempat, para pembaca juga akan menjumpai kutipan-kutipan dari perkataan para
bijak bestari, dokter dan sastrawan. Demikianlah, semua hal yang ada dalam buku
ini hanya ingin mengajak Anda untuk senantiasa berbahagia.
Keempat, buku ini bersifat umum, alias untuk siapa saja. Singkatnya, untuk kaum
muslim maupun non-muslim. Pasalnya, pembicaraan dalam buku ini secara umum
adalah berkaitan watak dan sifat naluriah dan persoalanpersoalan umum kejiwaan
manusia. Namun begitu, buku ini tetap menempatkan Manhaj Rabbanisebagai
penyuluh. Karena memang manhaj itulah yang menjadi agama
fitrah kita.
Kelima, dalam buku ini pembaca tidak akan hanya menjumpai kutipankutipan pernyataan
dari orang-orang Timur, tetapi juga dari orang Barat. Namun demikian, saya
berharap tidak ada tudingan negatif terhadap diri saya berkaitan dengan hal
ini. Karena, bagaimanapun saya yakin bahwa hikmah itu adalah laksana barang
yang hilang dari kaum muslim. Artinya, maka di mana pun barang itu ada masih
berhak kita ambil kembali.
Keenam, saya sengaja tidak menggunakan catatan kaki dalam buku ini. Ini tak lebih
hanya untuk meringankan dan memudahkan pembaca. Karena, dengan begitu paling
tidak buku ini akan menjadi bacaan yang berkesinambungan dan memberikan
pemahaman yang tidak terpotong-potong. Dan untuk itu, setiap referensi dari
masing-masing kutipan selalu saya sebut langsung dalam setiap paragraph yang
menyebutnya.
Ketujuh, dalam mengutip, saya tidak mencatat nomor halaman dan volume sumbernya.
Mengapa? Karena hal seperti itu sudah lazim dilakukan oleh orang-orang sebelum
saya, dan saya mengikuti mereka. Saya kira ini lebih bermanfaat dan lebih
memudahkan. Kadang kala saya menuliskannya sesuai dengan teks yang ada di dalam
buku sumbernya, dan kadang kala ada sedikit penyuntingan atau penyesuaian
dengan pemahaman saya terhadap buku ataupun artikel yang pernah saya baca.
Kedelapan, saya tidak menyusun buku dalam sistematika bab-bab dan pasal-pasal yang
banyak. Yang saya lakukan adalah menulis dengan gaya yang sangat variatif.
Adakalanya saya membeberkan beberapa permasalahan dalam beberapa paragraf,
kemudian saya berpindah dari satu permasalahan ke permasalahan lain, dan
kembali lagi pada bahasan yang sama setelah beberapa halaman pembahasan yang
berbeda. Ini saya tujukan agar lebih sedap dibaca, lebih enak dan tidak
membosankan.
Kesembilan, saya tidak memberi nomor surat dan ayat serta tidak pernah menyebutkan
perawi hadits. Meski demikian, bila hadits yang sebutkan itu lemah, maka saya
selalu mengingatkannya. Adapun bila hadits itu shahih, maka saya hanya akan
menyebutnya hadits shahih dan kadangkala tak memberi catatan apapun.. Semua ini
saya lakukan agar tulisan ini ringkas, terhindar dari banyaknya pengulangan,
penjelasan yang bertele-tele, dan tidak menjemukan. "Orang yang
berpura-pura puas dengan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya seperti orang
yang memakai dua pakaian palsu."
Kesepuluh, mungkin pembaca melihat ada beberapa pengulangan pada sejumlah materi.
Meski demikian, saya selalu berusaha mengemasnya dalam metode dan struktur
pembahasan yang berbeda. Ini memang sengaja saya lakukan untuk semakin
menguatkan pemahaman kita dengan cara menyajikannya lebih sering.
Inilah sepuluh hal yang perlu saya
sampaikan kepada pembaca terlebih dahulu. Saya berharap buku ini akan membawa
kabar yang benar dan jujur, adil dalam memberi penilaian, obyektif dalam
ungkapan, meyakinkan dalam materi-materi pengetahuan, lurus dalam sudut
pandangan dan argumentasi, dan menjadi cahaya dalam hati.
Buku, La Tahzan, ini,
setidaknya, saya tulis untuk konsumsi pribadi saya sendiri dan mereka yang
bernasib sama dengan saya. Sayalah orang yang pertama kali mengambil manfaat
dari buku ini. Setiap kali membaca ulang buku ini, selalu terasa seakan baru
membacanya.
Tidakkah kau tahu setiap kali kutemui
Zainab
Selalu kucium semerbak wanginya
Setiap kali merasa tertekan, marah atau
sedih, selalu saya katakan pada diri ini, "Bukankah Anda penulis bukuLa
Tahzan?" Dan, sesaat setelah itu, api kemarahan pun meredup, dan
hati saya kembali menjadi tenang.
Demikianlah; dalam buku ini saya mencoba
berbicara kepada dan untuk semua orang; bukan untuk segolongan orang, generasi,
dan penduduk negeri tertentu. Buku ini adalah untuk semua orang, yakni siapa
saja yang ingin hidup bahagia!
Kutanamkan di dalamnya mutiara, hingga
tiba saatnya ia dapat
menyinari tanpa mentari dan berjalan di
malam hari tanpa rembulan
Karena kedua matanya ibarat sihir dan
keningnya laksana pedang
buatan India
Milik Allah-lah setiap bulu mata, leher
dan kulit yang indah mempesona
'Aidh al-Qarni